FKUB Bekasi Tanggapi Isu SARA di Pilkada Kota Bekasi

BekasiPost.com – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi menyoroti pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di wilayah setempat pada 27 Juni 2018 lalu. Organisasi yang dibentuk pemerintah daerah ini bahkan menyayangkan adanya fitnah yang dilayangkan kepada salah satu pasangan calon Wali dan Wakil Wali Kota Bekasi periode 2018-2023.

“Paling sedih Pilkada kemarin. Situasinya sangat panas, karena adanya berita hoaks yang bisa memecah belah antara umat Islam dengan non muslim,” kata Ketua FKUB Kota Bekasi, Abdul Manan di Plaza Pemerintah Kota Bekasi.

Manan mengatakan, menjelang Pilkada waktu itu salah satu calon Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi difitnah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dengan secarik kertas berisi perjanjian pembangunan gereja. Surat perjanjian yang diteken oleh para pendeta menyebutkan, Rahmat Effendi akan mendirikan ratusan gereja.

“Bayangkan, umat Islam marah mengetahui hal itu, harusnya pemerintah turun tangan untuk menjelaskan ke masyarakat,” ujar Manan.

Menurut dia, persoalan keamanan pelaksanaan Pilkada tentu menjadi ranah kepolisian. Sementara tentang kemasyarakatan, kata dia, merupakan peran pemerintah daerah. “Kemasyarakatan, pembangunan dan administrasi itu kewajiban pemerintah,” jelasnya.

Manan juga mengkritisi tidak adanya langkah kongkret dari pemerintah daerah untuk menyejukkan iklim politik pasca Pilkada terkait hal ini. Dia berharap agar Penjabat Wali Kota Bekasi Ruddy Gandakusumah mau mendengar pendapat dan saran dari para ulama, tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama lainnya.

“Terutama adakan pertemuan dengan ulama dan tokoh, sehingga ada rasa kebersamaan dan ini sama sekali nggak ada,” ucapnya.

Wali Kota Bekasi terpilih Rahmat Effendi tidak menampik berita hoaks yang menyerangnya pada H-3 pencoblosan sangat berpengaruh pada kepercayaan publik, sehingga suara yang dia peroleh merosot. Dia mengklaim, suaranya turun sekitar 15 persen dari hasil survei lembaganya yang memprediksi peroleh suara Rahmat Effendi dan Tri Adhianto Tjahyono sekitar 83 persen.

“Surat perjanjian itu sudah jelas palsu, dan kalau dikeluarkan selama seminggu bisa hilang lebih suaranya. Untungnya Allah kasih jalan, begitu diposting pelaku diburu polisi,” kata Rahmat.(wartakota)

 

Author: admin1

Share This Post On
468 ad

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *