Ma’ruf sebagai imam salat subuh, zikir sekaligus sebagai pemberi materi tausyiah kebangsaan

Jakarta, Bekasipost.com — Puluhan ulama yang tergabung dalam Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara berbondong-bondong hadir di kediaman calon wakil presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/11).

Menariknya, kunjungan rombongan itu tak terjadi di waktu siang atau petang hari layaknya tamu pada umumnya. Mereka hadir sekitar pukul 04.00 WIB atau saat memasuki waktu salat subuh. Para ulama dan kiai itu kompak mengenakan baju koko berwarna putih, peci dan sarung ketika hadir di kediaman Ma’ruf.

Sesuai agenda, rombongan kiai dan ulama PCNU Jakarta Pusat itu memulai kegiatan salat subuh berjamaah dilanjutkan tausiah kebangsaan dan diakhiri deklarasi dukungan bagi Jokowi-Ma’ruf.

Ma’ruf pun tampil sebagai imam salat subuh, zikir  sekaligus sebagai pemberi materi tausyiah kebangsaan bagi para ulama NU tersebut. Usai salat berjamaah itu, para ulama dan kiai lantas melakukan deklarasi dukungan terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Ketua PCNU Jakarta Pusat Ahmad Katsir menyampaikan bahwa dukungan alim ulama di Jakarta Pusat akan merata untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

“Setiap kecamatan itu ada perwakilan masing-masing. Insyaallah dengan tekad untuk memenangkan Kiyai Ma’ruf di Pilpres 2019 karena sudah ada amanat dari para kiyai setelah rapat konsilidasi,” ujar Ahmad.

Acara Ma’ruf saat waktu subuh itu tak terjadi hanya sekali. Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com, terhitung sudah tiga kali agenda serupa digelar Ma’ruf di waktu subuh.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai wajar apabila mantan Rais Aam PBNU itu bergerilya di waktu subuh sebagai momentum deklarasi. Sebab, waktu subuh dimaknai sebagai waktu yang sangat mulia dalam ajaran Islam.

“Di waktu subuh itu dinilai waktu yang sangat istimewa. Dalam ajaran Islam, subuh itu di dalamnya terkandung banyak kebaikan, makanya Ma’ruf menggelar kegiatan itu di waktu subuh,” kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com akhir pekan lalu.

Dalam konteks politik, kata Adi, waktu subuh tak hanya dimanfaatkan oleh Ma’ruf sekadar untuk beribadah melalui salat subuh berjamaah dan bertausiah. Akan tetapi, Ma’ruf turut mengkonstruksinya sebagai simbol militansi dan turut menguatkan soliditas dari kelompok-kelompok Islam demi kepentingan politik di pilpres.

Soal subuh juga menurut Adi termaktub dalam surat Al-Muzzammil yang meminta umat Islam bangun dari selimutnya untuk menegakkan salat di waktu subuh. Menurut dia, salat subuh berjamaah merupakan ujian militansi bagi umat Islam karena tak semua bisa terbangun dari tidur dan melangkahkan kakinya ke masjid.

“Itu sakral karena tak semua orang bisa melakukan seperti itu. Salat subuh merupakan ujian militansi kepada Tuhan, apalagi berjamaah, kuat iman dan hatinya kepada tuhan dan itu berdampak menjadi soliditas antar jemaah,” kata Adi. Selain itu, Adi juga menilai kegiatan Ma’ruf di kala subuh itu sekaligus ingin membendung kekuatan subuh berjamaah yang selama ini kerap dilakukan oleh kelompok alumni 212.

Tak hanya sekadar aksi di jalanan, kelompok alumni 212 diketahui kerap kali menggelar kegiatan salat subuh berjamaah di beberapa wilayah. Alumni 212 ini pun identik dengan pendukung Prabowo-Sandiaga. Melalui kegiatan subuh itu Ma’ruf dinilai sedang melakukan upaya tandingan untuk membangun kekuatan dari kekuatan kelompok Islam lainnya, seperti NU agar solid mendukung Jokowi-Ma’ruf di pilpres.

“Itu sebenarnya ingin membelah kekuatan 212 dan kekuatan Islam lainnya itu biar enggak mengarah kepada Prabowo, namun ke Jokowi- Maruf,” ujar Adi. Ia mengatakan, Ma’ruf sedang membangun narasi untuk menempatkan kelompok-kelompok Islam, terutama kelompok NU sebagai kelompok potensial agar dukungannya tak terpecah di pilpres.

NU sendiri merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jumlah anggota paling banyak ketimbang ormas Islam lainnya di Indonesia. Ma’ruf, kata Adi, telah menunjukkan bahwa subuh berjamaah dan deklarasi dari kiai dan ulama NU sebagai sesuatu yang sakral karena digelar ketika waktu subuh.

Sementara itu, Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, Maman Imanulhaq menegaskan bahwa Ma’ruf telah memiliki kebiasaan menggelar salat subuh berjamaah di kediaman pribadinya sejak lama.

Ia mengatakan rutinitas Ma’ruf saat subuh itu masih  terus dilakukan meski saat ini telah berstatus sebagai calon wakil presiden. “Nah kebiasaan itu diimplementasikan [Ma’ruf] dengan menerima tamu-tamu itu di kediaman beliau [saat kampanye kini], sekali lagi ini soal kebiasaan,” kata Maman saat dihubungi pada Senin (19/11).

Selain itu, Maman turut mengatakan bahwa momentum subuh saat ini turut dimanfaatkan Ma’ruf sebagai sarana membuka dialog dan mendengar aspirasi bagi masyarakat luas. Ia menyatakan dialog itu berguna sebagai masukan agar Indonesia semakin maju apabila Jokowo-Ma’ruf terpilih di Pilpres 2019 mendatang.

“Diskusi-diskusi bagaimana ke depan Indonesia maju, ini berupa dialog tak monolog. Kiai Ma’uf membuka ruang bagi masyarakat dari elemen manapun untuk memberikan dukungan, masukan, dan juga ide gagasan,” kata dia. (rzr/sur CNN)