Illustrasi Model Pekerja profesional

NEW YORK, Bekasipost.com – Dilansir dari CNBC, Kamis (22/11/2018), selama 5 tahun berjalan, Swiss mendapatkan tempat teratas dalam the World Talent Ranking alias Peringkat Talenta Dunia. Hal ini dikarenakan investasi besar dalam pendidikan dan pelatihan di negara tersebut, serta daya tariknya di antara karyawan internasional. Kemudian diikuti oleh Denmark (2), Norwegia (3), Austria (4), dan Belanda (5). Kanada, yang menempati peringkat keenam, adalah satu-satunya negara non-Eropa yang masuk 10 besar yang diikuti oleh Finlandia (7), Swedia (8), Luksemburg (9) dan Jerman (10). Amerika Serikat berada di posisi 12, Australia 14, dan Inggris di posisi 23.

Menurut laporan terbaru dari IMD Business School, negara-negara Eropa tersebut melakukan cara yang lebih baik untuk mengembangkan pekerja berbakat mereka ketimbang kebanyakan negara lain di dunia.

Sementara, Singapura muncul sebagai negara terbaik di Asia untuk karyawan berbakatnya yang menempati urutan ke-13, bahkan mengalahkan Hongkong yang ada di posisi ke-18. Kemudian, Malaysia berada di posisi ke-22. Negara Asia lainnya tercatat masuk posisi 50 besar, yakni China di posisi ke-39 dan Indonesia ke-45. Adapun India berada di urutan ke-53. Direktur Pusat Daya Saing Dunia IMD Arturo Bris mengatakan, temuan tersebut mencerminkan investasi bersejarah di negara-negara Eropa dalam program pendidikan dan pelatihan.

“Secara konsisten, Anda menemukan negara-negara Eropa mendominasi. Negara-negara teratas mendapat manfaat dari warisan sistem pendidikan yang baik dan kemampuan untuk mengembangkan karyawan,” ujar Bris. Hal itu terutama berlaku untuk Swiss, yang telah mengembangkan “pendekatan praktis, ekonomi” untuk menyesuaikan pendidikannya dengan manufaktur, penelitian dan pengembangan, dan teknologi yang diperlukan untuk industri utama negara itu.

Amerika Serikat yang digolongkan sebagai negara paling kompetitif di dunia dalam studi IMD secara terpisah, tertinggal dalam hal investasi dan efisiensi sistem pendidikannya. Dengan menggunakan data dan tanggapan dari survei tahunannya terhadap 6.000 eksekutif, IMD menilai 63 negara di beberapa bidang seperti pendidikan, magang, pelatihan di tempat kerja, keterampilan berbahasa, biaya hidup, kualitas hidup, pengupahan, dan tarif pajak. (Putri SN/K)